MADIUN.KLIKSURABAYA.CO.ID – Pengelolaan pasar di Kota Madiun kembali menjadi rujukan. Pemerintah Kabupaten Probolinggo melakukan studi komparasi untuk mempelajari strategi pengelolaan retribusi pelayanan pasar sebagai upaya mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kegiatan yang berlangsung di Ruang 13 Setda Kota Madiun, Jumat (10/7), dihadiri Wakil Bupati Probolinggo, Fahmi Abdul Haq Zaini dan diterima langsung Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun.
Wakil Bupati Probolinggo mengatakan, Kota Madiun dipilih karena dinilai memiliki berbagai inovasi dalam pengelolaan pasar, khususnya dalam penataan retribusi yang lebih tertib, transparan, dan berdampak pada peningkatan pelayanan.
“Kami melihat Kota Madiun memiliki banyak inovasi dalam pengelolaan pasar, terutama bagaimana retribusi dapat dikelola secara lebih tertib, transparan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat maupun pemerintah daerah. Dari pengalaman itulah yang ingin kami pelajari secara langsung,” ujarnya.
Menurutnya, retribusi pasar tidak semata-mata menjadi sumber PAD, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, hasil pengelolaan retribusi harus kembali dalam bentuk pelayanan yang semakin baik sehingga aktivitas ekonomi di pasar terus tumbuh.
“Yang lebih penting adalah bagaimana retribusi yang dibayarkan pedagang benar-benar kembali dalam bentuk pelayanan yang lebih baik. Pasarnya semakin bersih, nyaman, aman, dan aktivitas ekonomi masyarakat semakin hidup,” katanya.
Sementara itu, Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun menjelaskan, strategi yang diterapkan Pemkot Madiun berfokus pada menghidupkan kembali ekosistem pasar tradisional agar mampu mengikuti perubahan perilaku masyarakat. Salah satunya dengan melakukan rebranding lantai atas pasar, menghadirkan ruang ekonomi kreatif, serta memberikan kemudahan bagi pelaku usaha untuk mengisi kios-kios yang masih kosong.
“Kami tidak menjadikan pajak atau retribusi sebagai prioritas utama. Yang kami kejar bagaimana ekosistem pasar itu jalan dulu. Yang penting orang jualan itu buka. Saya tidak mau pasar dikosongi,” tegasnya.
Plt wali kota menambahkan, ketika aktivitas perdagangan tumbuh, optimalisasi PAD akan mengikuti secara alami. Karena itu, Pemkot Madiun terus mendorong pemanfaatan kios kosong menjadi ruang produktif bagi UMKM dan pelaku ekonomi kreatif.
“Salah satu cara mengoptimalkan PAD, kios-kios yang kosong kita isi. Contohnya di lantai dua Pasar Sleko kita isi pelaku ekonomi kreatif sehingga PAD bertambah. PAD itu juga harus berdampak langsung kepada masyarakat melalui pola-pola yang baru,” tambahnya.
Melalui studi komparasi ini, kedua daerah diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam berbagi pengalaman dan inovasi pengelolaan pasar. Berbagai terobosan yang telah diterapkan Pemerintah Kota Madiun diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk menghadirkan pasar yang lebih modern, meningkatkan aktivitas ekonomi, sekaligus mengoptimalkan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
